February 01, 2014

Kecamatan Teweh Selatan become my 2nd District Duty Job


Kecamatan Teweh Selatan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan TengahIndonesia. Kecamatan ini dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Barito Utara Nomor 4 Tahun 2012 dan merupakan pemekaran dari Kecamatan Teweh Tengah


Kecamatan Teweh Selatan Ibukotanya Trahean dengan 10 Desa jumlah penduduknya 18.918 jiwa. Kecamatan Teweh Selatan memiliki wilayah administratif yang meliputi 10 Desa Defenitif, antara lain : 
  1. Desa Buntok Baru 
  2. Desa Butong
  3. Desa Bintang Ninggi I
  4. DesaBintang Ninggi II
  5. Desa Bukit Sawi
  6. Desa Tawan Jaya
  7. Desa Pandran Permai 
  8. Desa Trahean
  9. Desa Pandran Raya, dan; 
  10. Desa Trinsing

Kecamatan Teweh Selatan berbatasan dengan:
UtaraKecamatan Teweh Baru dan Teweh Tengah
SelatanKecamatan Montalat dan Gunung Timang
BaratKecamatan Teweh Tengah
TimurKecamatan Teweh Baru

January 03, 2014

KAWASAKI KLX 150 S - 2013...a dualpurpose Dirt Bike for my District "Offroad" Duty


Kawasaki KLX 150 S hadir untuk pecinta adventure dengan konsep Aggressive Styling. Bobot kendaraan yang ringan serta performas mesin yang handal dan desain body yang Aerodinamis untuk menjelajahi segala medan. Terutama untuk menjelajahi jalan antar Desa dan Kelurahan di wilayah administratif Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara yang hampir sebagian besar belum tertembus dengan infrastruktur jalan yang baik atau masih dalam kondisi jalan tanah, semak belukar, berlumpur dan sama sekali belum dilakukan pembangunan jalan yang berbasis Jalan Aspal hingga ke dalam wilayah pedalamannya.   



Minimnya pilihan ATPM Kendaraan Bermotor bergenre TRAIL di Indonesia khususnya di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, tentunya Kawasaki KLX 150 S adalah merupakan pilihan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan yang penggunaannya ditujukan untuk melahap medan Offroad di wilayah Kecamatan Lahei. 





Kawasaki KLX 150 S dibekali mesin 144 cc, silinder tunggal, 4-Langkah, SOHC, 2 katup, yang mampu memuntahkan tenaga 8,60kW pada 8000 rpm dan torsi 12 Nm pada 6500 rpm. Kawasaki KLX 150 S hadir dengan 2 warna pilihan yaitu Hijau dan Hitam, sedang untuk harga Rp. 23.200.000,- OTR Jakarta.

Kawasaki KLX 150 S ini diperoleh setelah menabung kurang lebih selama 2 tahun, dan pada tanggal 26 Desember 2013 tepatnya di Dealer Motor ATPM Kawasaki Jalan Sutoyo - Kota Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan akhirnya Penulis dapat mewujudkan impiannya dengan harga pembelian OTR yang sama dengan wilayah Jakarta. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Harga Jual Kawasaki KLX 150 S di Kota Banjarmasin lebih murah daripada di Muara Teweh dan Pajak kendaraannya pun lebih murah. Akhirnya jatuhlah pilihan sesuai pandangan pertama pada Kawasaki KLX 150 S berwarna Hitam / Black. 

Tentunya kemampuan Kawasaki KLX 150 S sendiri belum teruji sesuai spesifikasi atau tidak dalam kenyataan di lapangan. Dengan memperhatikan masukan, saran dan nasehat dari rekans yang sudah berkecimpung di dunia Dirtbike perlu adanya upgrade yang untuk menggempur keganasan medan Offroad di wilayah Kecamatan Lahei, dan tentunya hal ini juga memerlukan Cost yang tidak sedikit karena harus di Bore Up di sisi Engine maupun kelengkapan lainnya. 

Nawaittu yang baik untuk peningkatan kemampuan Kawasaki KLX 150 S adalah tujuan yang hendak dicapai selanjutnya, dan untuk itu maka "MENABUNG" adalah alternatif utama yang bisa dilakukan untuk secara bertahap mewujudkan impian memiliki Motor Trail Kawasaki KLX 150 S yang mumpuni untuk menhadapi medan jalan Offroad di wilayah pedalaman Kecamatan Lahei. Semoga impian itu terwujud menjadi Kawasaki KLX 150 S yang seperti ini :


InsyaALLAH...ALLAHUMMA...AMIN




December 13, 2013

Mengenang LATSITARDA Nusantara XVII - 1996

"Ketemu Teman Lama Satu Peleton Kompi C Satlak Hiu - LATSITARDA NUSANTARA XVII - 1996 Kab. Tanjung Jabung, Propinsi Jambi setelah 16 Tahun Kemudian" with Letkol Inf. DWI MARYANTO - Komandan KODIM 1013 / Muara Teweh" 











October 20, 2013

A New Beginning in Lahei District - 2013

20 September 2013 
Kecamatan Lahei become my new place for a district job as Camat Lahei




Lahei adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Barito Utara, Propinsi Kalimantan Tengah, Indonesia dengan ibukota Kecamatan yang terletak di Kelurahan Lahei II. Jarak antara ibukota Kecamatan Lahei dengan ibukota Kabupaten Barito Utara, yakni Muara Teweh kurang lebih 17 Km.
Kecamatan Lahei dengan luas wilayah 2.913 Km2 secara administratif membawahi wilayah yang terdiri dari 11 Desa dan 2 Kelurahan, antara lain :
  1. Desa Bengahon
  2. Desa Haragandang
  3. Desa Hurung Enep
  4. Desa Ipu
  5. Desa Juju Baru
  6. Desa Karendan
  7. Desa Mukut
  8. Desa Muara Inu
  9. Desa Muara Pari
  10. Desa Mukut
  11. Desa Rahaden
  12. Kelurahan Lahei I
  13. Kelurahan Lahei II


September 02, 2013

TERIOS Touring to Samarinda

Carilah ILMU hingga ke Negeri China..Itulah pepatah kata orang tua dulu. 538 Km x 2 (Pp.) Jarak Tempuh Muara Teweh - Samarinda = 1.076 Km dengan Waktu Tempuh 23 Jam perjalanan via Rute AKAP Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Semoga ilmu yang didapatkan menjadi berkah dari ALLAH SWT...AMIN






 

July 24, 2013

BERITA DUKA



إنَّا ِللهِ وإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْن الَلهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتي فَأجِرْنِي ِفيها وَأَبْدِلْني ِمنْها خَيرًا

"Sesungguhnya kami milik ALLAH dan kepada-NYA kami kembali. Ya ALLAH aku pasrah pada-MU atas musibah ini, maka berilah aku pahala dan gantilah dengan yang lebih baik."


Telah berpulang ke Rahmatullah Adik, Sodara, Rekan Senasib, dan Seperjuangan, Yunior kami EDY JUNINDRA POLUAN, AP. Semoga arwah beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi ALLAH SWT, diampuni segala dosa-dosanya dan diridhoi segala amal perbuatannya, dan untuk keluarga yang ditinggalkan senantiasa dapat tabah, sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan dengan segala keikhlasan semata-mata karena ALLAH SWT.


April 18, 2013

SELAMAT JALAN SAHABAT-KU...JAMES SONY AHMAD Angkatan 05 STPDN





Seribu kenangan tak lengkang oleh usia, sejuta ingatan akan masa lampau tak lekang karena waktu...Selamat jalan teman, konco, shohibi, sobat, sahabat, sodaraQ Masbro 

JAMES SONI AHMAD, AP 
(Purna Praja STPDN 05 - 1997 )

Satu lagi SahabatQ Rekan Senasib Sepenanggungan 05 telah tenang menuju hadirat ALLAH SWT
Kami sekeluarga dan Purna Praja STPDN/IPDN Barito Utara turut berduka dan selalu mendoakan, Semoga Budi baik, Amal Perbuatan dan kenangan akan dirimu semoga mendapatkan Ridho ALLAH SWT dan Semoga mendapatkan tempat yang layak di sisi ALLAH SWT, dan untuk SaudariQ RENI MARNILAM sekeluarga yang ditinggalkan senantiasa bersabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ALLAH SWT....AMIN

April 11, 2013

Catatan Sejarah Serdadu Operasi Seroja Yang Hampir Terlupakan Part 5


OPERASI FLAMBOYAN
"One Upon a Time of Blue Jean Souldier"
Wrote by :  Hendro Subroto

Kampanye militer terbuka belum dapat dilaksanakan sebagai akibat belum adanya dukungan politik luar negeri. Hal itu menyebabkan Presiden Suharto tidak berani mengambil resiko, sehingga mengatakan "Tunggu dulu. Akibat kurangnya pengertian akan mengganggu arus bantuan dari IGGI." Kebijaksanaan presiden itu dapat ditafsirkan bahwa ABRI tidak boleh masuk ke Timor Portugis. Tetapi Mayjen Benny Moerdani memberanikan diri mengambil kebijaksanaan lain dengan berkata, "Sebagai pelaksana yang baik kalau dilarang, ABRI harus tetap melakukan kegiatan di Timor Portugis. Kalau nanti yang melarang mengatakan boleh, sedangkan kita belum siap, kita dianggap sebagai pelaksana yang jelek." Langkah selanjutnya Ketua G-1/intelijen Hankam mengambil prakarsa segera melakukan peningkatan operasi non-phisik berupa operasi penggalangan oleh Kokamko (Komando Kampanye Komodo) menjadi operasi phisik yaitu berupa operasi sandiyudha terbatas (limited combat intelijen). Salah satu dasar pertimbangan yang diambil ialah disebabkan Kokamko tidak memiliki pasukan yang dapat digunakan untuk melakukan operasi phisik. Untuk mendukung pelaksanaan operasi intelijen tempur terbatas, maka Mayjen Benny Moerdani mendesak kepada Mayjen Sarwono, Asisten Keuangan, agar biaya operasi dapat dikeluarkan selambat-lambatnya pada tanggal 27 Agustus 1975.

Dalam suatu rapat di G-1/Intelijen Hankam, Tebet, Mayjen Benny Moerdani memanggil Kolonel Inf Dading Kalbuadi (44 tahun), Komandan Grup-2 Parako/Kopassandha, di Magelang, ikut hadir. Rapat sengaja mengambil tempat di kantor G-1/Intelijen Hankam di Tebet, karena rapat-rapat di Hankam Jl. Medan Merdeka Barat, sudah diketahui oleh Australia. Dalam rapat itu Mayjen Benny Moerdani menunjuk Kolonel Dading Kalbuadi memimpin operasi intelijen tempur dengan nama sandi Operasi Flamboyan. Kolonel Dading adalah seorang mantan Tentara Pelajar dalam perjuangan kemerdekaan 1945 yang kemudian menjadi anggota Korp Baret Merah. Selain itu ia adalah seorang lulusan Sekolah Pasukan Khusus di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Antara Mayjen Benny Moerdani dan Kolonel Dading Kalbuadi keduanya telah bersahabat sejak tahun 1951, ketika mereka mengikuti pendidikan militer di Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) di Bandung, dan bertempur bersama-sama dalam penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera pada tahun 1958. Dengan demikian antara keduanya terdapat rasa saling percaya dan jalinan yang erat antara satu dengan yang lain.

Dalam melancarkan operasi intelijen tempur terbatas ke Timor Timur, pasukan sandiyudha sebagai sukarelawan tidak dapat mengharapkan dukungan resmi dari pemerintah, sehingga kedudukan mereka amat rawan. Disebabkan sukarelawan beroperasi secara rahasia, maka mereka tidak dapat mengandalkan dukungan perbekalan dan amunisi dari garis belakang secara terus menerus. Pasukan sukarelawan yang melaksanakan tugas itu membutuhkan klasifikasi tertentu. Sehubungan dengan tugas berat itu, Mayjen Benny Moerdani berkata, "Ini mungkin one way ticket." Kolonel Dading menjawab, "Wis Ben, ora opo-opo (Sudahlah Ben, tidak mengapa), saya kerjakan." Tak lama kemudian Kolonel Dading menambahkan, "tapi tolong, titip keluarga saya, kalau nanti saya tidak kembali." Mayjen Benny Moerdani menjawab, "Jangan khawatir, aku nanti pegang semuanya kalau kamu sampai nggak ada ..."

Sejak bulan September 1975 Detasemen Tempur-2 Grup-1 Parako/Kopassandha di bawah pimpinan Mayor Inf Muhidin berkekuatan dua kompi atau sekitar 250 orang, yaitu Kompi-A di bawah pimpinan Lettu Inf Marpaung dan Kompi-B dibawah pimpinan Lettu Inf Kirbiantoro telah tiba di daerah perbatasan Timor Timur. Penugasan Detasemen-2 di daerah perbatasan dipimpin oleh Mayor Inf Kuntara, sebagai Wadan Grup-1. Pasukan pemukul Operasi Flamboyan terdiri dari tiga tim, yaitu Tim Susi, Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah, Mayor Inf Tarub, dan Mayor Inf Sofyan Effendi.

Mayjen TNI Yogie S.M., Danjen Kopassandha memberi nama sandi Nanggala dalam setiap penugasan operasi intelijen tempur yang dilakukan oleh Kopassandha. Misalnya Kopassandha Grup-4 yang diselundupkan dari kapal selam kelas Whiskey ALRI di dekat Jayapura dalam perjuangan pembebasan Irian Barat pada tahun 1962 dinamakan Nanggala 1, sedangkan Kopassandha Grup-4 yang bertugas di Timor Timur atau Tim Susi diberi nama sandi Nanggala 2. Kekuatan Tim Susi terdiri dari Karsayudha yang membawahi empat Prayudha. Komandan Tim Tuti Nanggala 3 dan Tim Umi Nanggala 4 yang baru dibentuk, masing-masing dijabat oleh Mayor Inf Tarub dan Mayor Inf Sofyan Effendi. Disebabkan kurangnya anggota Kopassandha, maka Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing terdiri dari dua Prayudha Kopassandha dan dua peleton Para Komando (Parako). Baik Detasemen-1 dan Detasemen-2 pada Grup-1 bernama sandi Nanggala 5.

Pada tanggal 27 Agustus 1975 Tim Umi di bawah pimpinan Mayor Inf Sofyan Effendi diberangkatkan ke Atambua dengan pesawat menuju ke Kupang, kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Motaain lewat laut dengan menggunakan kapal Bea & Cukai. Seluruh anggota mengenakan pakaian preman agar tidak menarik perhatian. Kapten Inf Sutiyoso dan anak buahnya menyamar sebagai mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Senjata dan amunisi dimasukkan ke dalam karung yang dibubuhi dengan tulisan yang berbunyi alat pertanian. Tim Susi di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah telah tiba di Kupang pada tanggal 19 April 1975. Mereka juga mengenakan pakaian preman. Kegiatan yang dilakukan ialah menyusup masuk ke Timor Portugis dalam kelompok-kelompok kecil untuk membentuk basis-basis gerilya dan melakukan penyerangan. Tim Susi masuk ke Maliana di Concelho Bobonaro sampai ke Atsabe dan Tim Umi di bawah Mayor Inf Sofyan Effendi masuk ke Concelho Covalima, kemudian menyerang Tilomar dan Kapten Sutiyoso menyerang Suai.

Disebabkan penyusupan hanya masuk ke sasaran di dekat perbatasan, kemudian pimpinan Operasi Flamboyan merencanakan penyusupan yang jauh di daerah pedalaman, yaitu ke suatu pegunungan di selatan Viquque. Tugas itu dipercayakan kepada Kapten Sutiyoso. Suatu pagi ketika perahu bermotor yang ditumpangi bersama anak buahnya sedang menyusur di daerah lepas pantai Viqueque, tiba-tiba muncul helikopter Bolkow Pelita Air Service terbang rendah mendekatinya. Perwira yang duduk di sebelah kanan penerbang memberikan isyarat dengan menunjukkan tiga jari, menempelkan ketiga jari pada pundaknya, kemudian ia menunjuk ke pantai. Kapten Sutiyoso mengerti bahwa isyarat itu berarti seorang perwira yang berpangkat kapten diperintahkan naik ke darat. Perahu bermotor segera merapat ke pantai. Setibanya di darat Kapten Sutiyoso diberitahu bahwa perintah penyusupan ke daerah Viqueque dibatalkan. Dalam berbincang-bincang dengan penulis beberapa waktu setelah pembatalan penyusupan ke Viqueque, Kapten Sutiyoso mengatakan bahwa ia mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viqueque yang terletak jauh dari basis. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya.

The Blue Jeans Soldiers

Para pelaku limited combat intelligence tidak berstatus sebagai anggota militer, tetapi mereka berstatus sebagai sukarelawan. Dengan demikian anggota pasukan sandiyudha yang bertugas kebanyakan hanya mengenakan kaos oblong dan celana blue jeans. Hal itulah yang menyebabkan mereka dijuluki the blue jeans soldiers, sedangkan para pejuang integrasi dari keempat partai dijuluki Partisan seperti panggilan para pejuang Prancis pada masa pendudukan Jerman dalam Perang Dunia II. Tenaga Bantuan Operasi (TBO) disebut Haiho, yaitu nama pasukan pribumi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam struktur organisasi Bala Tentara dai Nippon ketika menduduki Indonesia, sebenarnya Tenaga Bantuan Operasi disebut To Bang.

Para awak pesawat militer dan awak pesawat sipil yang mendukung operasi flamboyan juga berstatus sebagai sukarelawan. Penerbang militer yang menerbangkan pesawat sipil dengan registrasi PK seperti Pelita Air Service atau Dirgantara Air Service, biasanya mengenakan baju putih dan celana biru tua seperti lazimnya awak pesawat komersial. Tetapi di samping kursi penerbang dan mekanik terdapat senapan serbu G-3 atau AK-47. Awak pesawat TNI AU mengenakan overall tanpa tanda pangkat maupun atribut kesatuan militer. Bahkan kadang-kadang mereka hanya mengenakan pakaian preman. Dua pesawat pembom serbu B-26 Invader dan dua AC-47 Gunship yang digunakan untuk operasi itu, dihilangkan identitasnya di Lanud Penfui. Lambang segi lima, huruf yang berbunyi TNI AU dan call sign pesawat dihapus dengan jalan menyemprot cat berwarna putih. Pasukan Marinir mengenakan pakaian dinas lapangan secare terbalik agar nama, pangkat, dan atribut militer tidak tampak. 

Karsayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The B-Team dalam Organisasi US Special Forces. Jika The B-Team berkekuatan 68 orang, yaitu terdiri dari 20 orang staf markas dan empat A-Team masing-masing sebanyak 12 orang, maka Karsayudha Kopassandha berkekuatan 72 orang, yaitu 20 orang staf markas dan empat Prayudha masing berkekuatan sebanyak 13 orang. Baik Komandan Karsayudha maupun The B-Team dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Mayor.

Prayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The A-Team dalam organisasi US Special Forces. Susunan Prayudha terdiri dari seorang Komandan berpangkat Kapten, seorang Wakil Komandan, seorang Bintara Operasi, dua orang Prajurit PHB, dua orang Prajurit Kesehatan, dua orang Prajurit Intelijen/Territorial, dua orang prajurit Persenjataan, seorang Prajurit Logistik, dan seorang Prajurit Zeni untuk demolisi. Seluruhnya berjumlah 13 orang.
Sumber :

Catatan Sejarah Serdadu Operasi Seroja Yang Hampir Terlupakan Part 4

OPERASI SEROJA - TIMOR TIMUR 
"One Upon a Time of Blue Jean Souldier"
Kesatuan Baret Merah yang dibentuk pada 16 April 1952 sudah kesekian kalinya berganti-ganti nama. Diantaranya nama legendaris RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat hingga Kopassandha alias Komando Pasukan Sandhi Yudha. Almarhum papa saya baru bertugas di Baret Merah sewaktu namanya masih Puspassus AD atau Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat sebelum berganti menjadi Kopassandha.
Pada periode 1980an, guna memenuhi hakekat ancaman dan gangguan serta tantangan yang ada, kesatuan ini memiliki Grup Parako atau Para Komando dan Grup Sandi Yudha alias Sandha. Dalam sebuah Grup Parako saat itu bermaterikan 3 (tiga) Detasemen Tempur atau Denpur. 1 (satu) Denpur terdiri dari 3 Kompi dan 1 Kompi terdiri dari 3 Peleton (Denpur 12~ Kompi 111, Kompi 112 dan Kompi 113). Sedangkan di Grup Sandha atau Sandhi Yudha terdiri dari Karsa Yudha dibawahnya menggunakan istilah Prayudha. Saat ini di Kopassus menggunakan istilah Batalyon, contoh Grup 1 Batalyon 11,12 atau Grup 2 berarti Batalyon 21,22 dan begitu seterusnya kecuali Satuan Penanggulangan Teror atau Gultor. Meskipun sama-sama memiliki kualifikasi Komando namun tugas Grup Parako dan Grup Sandha berbeda satu dengan lainnya. Satu hal yang pasti seorang anggota Baret Merah mesti melewati masa tugasnya beberapa tahun berikut memiliki riwayat penugasan di Grup Parako lebih dahulu baru kemudian anggota tersebut dapat bergabung di Grup Sandha.
Guna mengetahui secara sederhana perbedaan antara Grup Parako dengan Grup Sandha, kita dapat mengambil contoh saat ”infiltrasi” yang dilakukan pasukan ini ke Timor Portugis di tahun 1975. Sebelum digelar Operasi Gabungan besar-besaran dari darat laut dan udara untuk merebut Kota Dili, Minggu 7 Desember 1975, Kopassandha telah mengirimkan setidaknya 3 Team Khusus yang dipersiapkan dalam rangka perebutan Dili. Kesuksesan yang diperoleh Team Susi Umi dan Tuti tak diikuti dengan mulus oleh operasi selanjutnya. Menurut almarhum Jenderal Purnawirawan Benny Moerdani dalam bukunya, operasi gabungan ini masih memiliki banyak kelemahan. Hal itu dikarenakan oleh ketiadaan pengalaman dari TNI untuk melaksanakan Operasi Gabungan sebelumnya. Konsekuensi ketidaksiapan pasukan mengakibatkan banyaknya pasukan TNI yang gugur termasuk prajurit dengan pangkat Mayor dan Kapten. Operasi gabungan Lintas Udara dengan inti kekuatan dari Grup 1 Kopassandha dan Batalyon 507 Kostrad Jawa Timur ini memakan korban cukup besar
Sifat dari operasi Sandha yang dilakukan itu sendiri juga memiliki kekhususan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi dan tentunya sasaran yang diberikan memiliki dampak buat operasi selanjutnya.
Berbicara mengenai Operasi Seroja di Timor Portugis, seperti diketik diatas bahwa jauh sebelum operasi itu dimulai, Kopassandha ketika itu setidaknya telah menurunkan 3 Team dari Grup Sandha yakni : Team Susi Team Umi dan Team Tuti. Team Susi yang dikomandani oleh Kapten Yunus Yosfiah ini berganggotakan 100 orang. Mereka mayoritas bertugas di Grup 4 Kopassandha. Para prajurit ini tergabung dalam 4 Prayudha dengan masing-masing 20 anggota dipimpin seorang perwira belum termasuk anggota lainnya pada tingkat Mako. Ke-100 orang anggota Kopassandha ini mulai mempersiapkan diri sekitar Oktober 1974. Team Susi yang dalam masa persiapan masuk pada Karsa Yudha “Siaga“ akhirnya diberangkatkan ke daerah operasi mulai 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975. Karsa Yudha yang berangkat tugas operasi Pra Seroja ini tergabung dalam gugus tugas Nanggala 2 dimana sebelumnya selain latihan militer diberikan juga buat mereka pelajaran Bahasa dan Budaya Timor Portugis.
Namanya juga pasukan Sandha, ke-100 anggota Nanggala 2 ini masing-masing memiliki nama samaran sendiri-sendiri. Ambil contoh almarhum papa saya tempo itu diberikan nama Yosep Fernandez atau biasa ditulis Ama Yosep pada tiap surat yang dikirim papa ke mama di Cijantung. Dalam tugas penyamaran beliau “mengaku“ bekerja sebagai Mandor Jalan sehingga banyak sekali catatan berupa tulisan tangan yang ditinggalkan hingga kini masih tersimpan.
Team Nanggala 2 ini sepanjang penugasan di Timor Portugis dikenal juga sebagai The Blue Jeans Soldiers. Alasan kenapa mereka dijuluki seperti itu tak lain dan tak bukan disebabkan oleh pakaian yang dikenakan prajurit Komando ini semua dari bahan blue jins. Tak satupun anggota Team Susi ini menggunakan atribut pasukan Baret Merah. Selama di medan perang mereka menggunakan pakaian sipil dengan seledang kain Timor menutupi tubuhnya. Kebanyakan dari prajurit itu juga mengenakan Topi yang memiliki kekhasan Timor.
Setiap Prajurit Kopassandha yang tergabung dalam Team Susi pada waktu itu ”sengaja” menggunakan senjata non organik TNI yaitu AK 47. Dalam berbagai pertempuran sepanjang tugas operasi di Timor Portugis selain AK 47 anggota Nanggola 2 juga menggunakan RL atau Rocket Launcher. Penggunaan AK 47 adalah untuk menyamarkan tugas mereka selaku Sukarelawan dalam rangka membantu Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang menginginkan rakyat Timor Portugis bergabung dengan Indonesia. Keempat partai pendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia kemudian membuat sebuah aksi disebut Deklarasi Balibo untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang secara sepihak dicetuskan oleh Fretilin.
Keinginan Rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia dilandasi oleh kesengsaraan dan kekejaman penjajahan Portugis melalui Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang saat itu sedang berkuasa.
Para Prajurit TNI dari kesatuan Baret Merah sewaktu melakukan gerakan di daerah operasi memiliki tugas untuk mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai Apodeti sehingga secara politik Apodeti masih memiliki suara dalam forum internasional di PBB. Dan perjuangan para sukarelawan pro integrasi menjadi bukti kuat bagi Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibo yang telah disepakati oleh 4 tokoh utama Partai Apodeti, UDT, Kota dan Trabalista.
The Blue Jeans Soldiers berintikan sepasukan prajurit Baret Merah setidaknya pernah membantu rakyat Timor Timur pada masanya. Apapun dan bagaimanapun kini situasinya The Blue Jeans Soldiers namamu senatiasa tercetak dengan tinta emas. Peran mereka senantiasa melekat dihati. Kaulah pahlawan Seroja sesungguhnya.